Selasa, 14 September 2010

Fiksi

: Tasa

Kau mengutukku dengan sastra.

Aku tak bisa menipu mu tentang pertemuanku dengannya,
dan aku juga tak bisa jujur, karena aku tahu itu akan membuat kau terluka.

Aku terperangkap tasa, aku tidak sedang dalam gembira, seandainya ada yang bisa aku lakukan, aku akan lakukan itu. Aku bukan sekedar memintamu untuk memahami, aku bahkan memintamu untuk menyembunyikan lukamu, karena tak sepatutnya kau terluka. Karena hatiku, milikmu. tapi kau malah meradang, aku tak sangka hari itu kau keluarkan semuanya dalam bentuk tangisan, untuk pertama kalinya di depan mataku. Aku bukan tak kasihan, tapi aku tak bisa berbuat apa2. Yang jelas kau telah tunjukkan sesuatu padaku, bahwa kau manusia biasa.

Aku tak bisa menipu siapapun bahwa aku mencintaimu.
tapi aku juga tak bisa jujur (hanya padamu), aku dengannya, susah pergi.

Jangan menghilang di balik sastra.



Dengan segala cinta untuk Rilutasa,

Aku.

***

and i just can text him,
I Love Everything about you, except the fact you are not mine.

RILUTASA

forgive

Selasa, 07 September 2010

Bukan Ibu

Neraka ku,
Bukan kau yang tentukan, ibu.
Tapi hari ini aku di gotong oleh orang2 yang tak di kenal, yang lebih mengerti arti sosial, yang lebih faham tentang ritual, yang lebih jelas tentang sesuatu yang kekal.

Matahari yang akan kau jumpai siang ini, percayalah, akan lebih menyengat dari biasanya,
akan lebih menyayat dari yang pernah kau duga.
Neraka ku,
Bukan kau yang tentukan, ibu!

Jika siang nanti kau berjumpa bapak, nikmatilah hari2 penuh hina dan ketakutan kalian.
bukan keinginanku, jika kemarin aku tak boleh luruh oleh jamu, oleh nanas asammu, oleh pukulan2 di perutmu.
Neraka ku,
Bukan kau yang tentukan, ibu!

Pagi ini, aku bertemu Tuhan,
dan kau menghamba pada setan.



RILUTASA
(merenung sejenak tentang kasus pembuangan bayi yang semakin marak akhir2 ini)