Selasa, 20 September 2011

Ter.ucap

Kamu datang hari itu

Langkah tegak mengayun, tanpa ragu, kamu pijakkan juga kaki di rumah itu. Entah, apa yang ada di pikiranmu. Sejak hampir beberapa bulan lalu, aku sudah terlalu jenuh menebak2. yang aku tahu, kamu tahu, akan ada aku, di sekian banyak individu, di rumah itu.

Apa yang kamu perkirakan. Adakah kamu sebenarnya mencuri pandang selama pertemuan kita di satu ruang itu. Atau kamu menganggap aku sama dengan individu2 lain yang kurang kamu tahu. Mungkin saja kamu bergaris teguh dengan bualan setia pada yang satu. Aku tak tahu. Menebak2, hanya membuat aku rapuh.

Begitu pun aku. Hatiku batu. Tak ada yang namanya ingin sekali menoleh padamu. Aku telah lama mati untukmu. Peduli apa kamu telah mati atau berkisar sendiri dalam bayangku. Kamu yang pergi. Jadi aku disini bukan apa2. Bukan pemberi keputusan, apalagi pelengkap jawaban.

Jangan tanya kenapa aku tulis ini. aku pun jauh dari iri. Hanya saja, dulu yang kau namakan cinta itu membuat aku mau tak mau luruh hari itu. Sekilas nampak bayangmu, tembokku runtuh.

Jangan pernah berharap aku akan berbaik2 bertanya kabarmu. Apatah lagi harus menipu bertanya tentang perempuanmu. Kamu tahu aku kan? Dulu kita pernah satu kan?
Jadi kamu tahu ini bukan persaingan untukku. Hanya sekedar rindu yang sekelebat datang, rindu, pada sosokmu yang dulu.

Dan aku pun tahu, hari itu, dalam dudukmu, dalam diammu, kamu malah dengan sadisnya merindukan perempuanmu yang baru saja kau jumpai setengah jam yang lalu.



RILUTASA.